Pengertian Unsur Intrinsik, Komponen dan Contohnya dalam Sebuah Cerita

P

Hai, bagaimana kabar pembaca semua? Semoga tetap sehat dan bahagia ya! Kegiatan apa saja yang sudah Anda lakukan beberapa hari ini? Menanam tanaman? Ikut bersepeda seperti yang sedang trend sekarang? Atau justru menghabiskan stok buku bacaan yang menumpuk?

Ngomong-ngomong soal buku bacaan, genre buku apa yang paling Anda suka? Non-fiksi? Biografi? Fiksi atau karya sastra?

Dalam sebuah karya sastra, terdapat beberapa unsur yang menjadi penguat dan penjelas karya tersebut. Masing-masing unsur saling melengkapi dan bergantung satu sama lain untuk menciptakan cerita yang menarik untuk dibaca.

Yap! Unsur intrinsik!

Di artikel kali ini, kita akan membahas pengertian unsur intrinsik, komponen dari unsur intrinsik, contoh dan bagaimana menganalisa unsur-unsur tersebut.

Yuk, simak penjelasan di bawah ini!

Pengertian Unsur Intrinsik

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata intrinsik memiliki arti ‘terkandung di dalamnya, sesuatu yang menyusun susunan atau tatanan yang telah utuh.

Nurgiyantoro (2010) menyebutkan dalam karyanya, bahwa suatu karya sastra (novel – karya fiksi) dibentuk oleh dua unsur pembangun: unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik.

Menurut Quipper, unsur intrinsik merupakan unsur-unsur penyusun dari suatu karya sastra. Absennya unsur intrinsik dalam karya sastra dapat mempengaruhi kualitas dan kelengkapan dari karya tersebut. Dapat disimpulkan bahwa unsur intrinsik merupakan fondasi atau dasar dari suatu karya sastra.

Novel
Novel

Unsur intrinsik dapat berbeda-beda pada beberapa jenis karya sastra, namun di artikel ini, kita akan membahas unsur intrinsik secara umum yang biasa terdapat dalam karya sastra.

Komponen Unsur Intrinsik

Berikut adalah komponen-komponen unsur intrinsik yang membantu menyusun suatu karya sastra, antara lain:

1. Judul

Judul pada karya sastra menandakan ‘identitas’ yang akan melekat pada karya tersebut. Dari sebuah judul, kita dapat memperkirakan alur atau plot cerita yang akan kita temui di tengah cerita. Judul juga dapat menjadi penunjuk isi cerita secara singkat; siapa tokoh utama, alur cerita, dan lain sebagainya.

2. Tema

Tema pada karya sastra merupakan ‘dasar’ atau ide awal dari karya tersebut yang kemudian dikembangkan oleh si penulis menjadi satu karya utuh. Dari sebuah tema atau ide awal ini,penulis mengembangkan cerita ke bagian penokohan, gaya bahasa, judul latar cerita, dan lain sebagainya.

3. Plot

Plot dalam Unsur Intrinsik
Plot dalam Unsur Intrinsik | Ilustrasi : statmat.id

Plot – atau dapat juga disebut alur, adalah jalan cerita suatu karya sastra yang disusun oleh penulis dari tahapan-tahapan peristiwa hingga membentuk suatu rangkaian cerita yang utuh. Adapun tahapan-tahapan plot meliputi:

  • Tahapan Awal (Orientasi), yakni tahapan dimana penulis mengenalkan tokoh-tokoh cerita disertai perwatakan, latar cerita, dan lain-lain.
  • Munculnya Konflik atau Rangkain Peristiwa, yakni dimana pada tahapan ini para pembaca dibawa pada pengenalan konflik cerita. Konflik disini berguna sebagai ‘penarik’ dari suatu karya sastra dengan berbagai topik cerita. Biasanya, konflik akan melibatkan semua tokoh dalam cerita. Pada tahapan ini pula, pembaca akan mulai dapat membaca alur dari cerita.
  • Komplikasi –dapat disebut sebagai tahapan peningkatan konflik, dimana pada tahap ini akan semakin banyak insiden atau konflik yang terjadi di tengah kehidupan para tokoh. Konflik-konflik pendukung memiliki fungsi sebagai penguat konflik utama pada alur cerita.
  • Klimaks, yakni tahapan dimana konflik mencapai puncaknya. Penulis akan meruncingkan konflik utama dan menjadi puncak ketegangan yang telah dibentuk sejak awalan cerita.
  • Resolusi, dimana pada tahap ini menujukkan solusi atau jalan keluar dari setiap konflik pada cerita. Tahapan dimana semua konflik dan teka-teki sepanjang cerita akan diselesaikan oleh penulis. Di tahap resolusi pula biasanya akan terlihat dengan jelas perwatakan asli dari setiap tokoh.
  • Akhir, yakni tahapan dimana semua masalah atau konflik cerita telah terpecahkan sepenuhnya dan cerita menemui akhir.

Selain memiliki tahapan-tahapan, plot juga memliki jenis yang berbeda-beda. Antara lain:

  • Alur maju atau Progresif, alur cerita bergerak maju sesuai dengan waktu normal di dunia nyata, yakni dari masa kini ke masa depan.
  • Alur mundur atau Regresif, alur cerita berkebalikan dengan progresif – disini waktu berjalan mundur. Insiden atau cerita yang ada pada masa kini merupakan hasil dari konflik-konflik yang terjadi di masa lalu.
  • Alur campuran, alur gabungan dari progresif dan regresif, dapat disebut juga dengan alur bolak-balik. Pada alur ini, penulis menceritakan konflik yang belum usai di masa lalu, masa sekarang dan penyelsaian pada masa depan. Masing-masing konflik pada alur yang berbeda saling berkaitan satu sama lain.

4. Perwatakan atau Penokohan

Perwatakan atau Toko dalam Unsur Intrinsik
Perwatakan atau Toko dalam Unsur Intrinsik | Ilustrasi : statmat.id

Tokoh dalam karya sastra memiliki peran masing-masing sesuai dengan kebutuhan penulis dalam menyempurnakan cerita. Berikut adalah macam-macam tokoh dalam suatu karya sastra:

4.1. Berdasarkan Peran

  • Tokoh Utama (Central), tokoh utama atau tokoh yang menjadi pusat dari jalannya cerita dan biasanya melakukan interaksi secara langsung dan terlibat dalam konflik.
  • Tokoh Figuran, tokoh yang memiliki fungsi sebagai pendukung suatu cerita. Biasanya tokoh figuran hanya dijelaskan dalam cerpen tanpa terdapat interaksi yang dilakukan dan tidak terlibat langsung dengan konflik.

Baik tokoh utama dan tokoh figuran saling berkaitan dan membantu sama lain, dimana mereka melengkapi cerita yang ada. Tokoh utama dalam suatu karya sastra dapat terdiri dari beberapa nama dan sering muncul dalam cerita. Di sisi lain, tokoh figuran hanya terlihat sesekali untuk mendukung cerita tokoh utama.

4.2. Berdasarkan Perkembangan

  • Tokoh Statis, tokoh yang tidak banyak mengalami perubahan sejak awal hingga akhir cerita.
  • Tokoh Berkembang, tokoh yang mendapat banyak perubahan secara individual hasil dari konflik-konflik yang ada sepanjang cerita berlangsung.
  • Berdasarkan Watak
  • Tokoh Protagonis, sisi putih atau yang menunjukkan sifat kebaikan manusia atau makhluk hidup sepanjang cerita berlangsung. Biasanya memiliki sifat ramah, murah hati dan penyayang.
  • Tokoh Antagonis, sisi hitam atau yang menunjukkan sifat keburukan manusia atau makhluk hidup sepanjang cerita berlangsung. Biasanya memiliki sifat licik, mudah tersulut amarah dan jahat.

5.Dialog

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata dialog memiliki artian sebagai ‘percakapan (dalam sandiwara, cerita, dan sebagainya). Dialog dalam karya sastra memiliki pengertian sebagai serangkaian percakapan dari awal hingga akhir cerita, yang terjadi antar-tokoh, atau melalui konflik batin. Biasanya, penulis akan menyertakan penjelasan mimik wajah atau gerakan para tokoh untuk menguatkan pesan dari dialog.

6. Konflik

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata konflik memiliki dua artian. Pertama, konflik adalah ‘percekcokan; perselisihan; pertentangan’. Dan artian kedua adalah ‘ketegangan atau pertentangan di dalam cerita rekaan atau drama (pertentangan antara dua kekuatan, pertentangan dalam diri satu tokoh, pertentangan antara dua tokoh, dan sebagainya).

Dalam suatu karya sastra, konflik adalah masalah atau pertentangan yang terjadi antar-tokoh, atau tokoh dengan dirinya sendiri. Konflik yang ada pada cerita atau karya sastra memiliki perbedaan sesuai dengan kebutuhan penulis; pesan apa yang ingin disampaikan. Konflik sendiri memiliki peran penting dalam suatu cerita, dimana ketika penulis berhasil membuat para pembaca larut dalam konflik yang ada, maka penulis dapat disebut sukses menyampaikan pesan yang ada.

7. Latar atau Setting

Latar memiliki fungsi sebagai penanda tempat, waktu, peralatan dan aspek-aspek lain seperti pakaian, budaya dan apapun yang berkaitan dengan kehidupan tokoh dalam cerita.

  • Latar Tempat, akan menjelaskan letak kejadian atau konflik sepanjang jalan cerita.
  • Latar Suasana, akan menjelaskan gambaran suasana sepanjang jalan cerita.
  • Latar Waktu, akan menjelaskan time stamps atau kapan kejadian atau konflik sepanjang jalan cerita.

Berikut beberapa aspek latar yang lain, diantaranya:

  • Bahasa

Pemilihan bahasa yang digunakan penulis selama membangun cerita sangat menentukan pasar pembaca yang diinginkan serta membawa ciri khas, mengacu pada gaya hidup sehari-hari, budaya, sosial budaya dan pendidikan.

  • Amanat

Amanat atau pesan moral adalah pesan atau ideologi yang ingin penulis sampaikan kepada para pembaca melalui karya yang mereka hasilkan. Amanat sendiri tertulis secara eksplisit maupun implisit; pembaca dapat dengan jelas membaca pesan yang akan disampaikan atau harus meneliti lebih dalam melalui dialog maupun narasi dalam cerita.

Contoh Unsur Intrinsik

Dari penjelasan di atas, kita telah mempelajari banyak hal mengenai unsur intrinsik. Secara pengertian, unsur intrinsik adalah komponen-komponen penting sebagai penyusun dari suatu karya sastra. Unsur intrinsik yang biasa terdapat pada cerita pendek antara lain: tokoh, alur, latar, sudut pandang dan nilai moral atau amanat yang ingin disampaikan oleh penulis kepada pembaca.

Untuk lebih mengerti unsur intrinsik pada karya cerita pendek, berikut contohnya:

*** Persepsi ***

“Ngerasa akhir-akhir ini Kairo makin jarang masuk sekolah,nggak? Sekalinya masuk sekolah cuma tidur di kelas.”

Nala menoleh ke arah pandang Puri. Sosok laki-laki dengan wajah lesu melintas menyebrangi lapangan sekolah. Tas ransel hitam yang kusam tersampir di punggung. Bajunya terlihat kusut disana-sini. Belum lagi tali sepatu yang tidak terikat sempurna. Nala meringis kecil membayangkan salah satu temannya itu terjatuh karena terselip tali sepatu.

“Kairo!”

Puri menyikut perut kawannya keras-keras. Mempertanyakan kepentingan Nala memanggil sosok itu kelewat keras.

Kairo menoleh, nampak setengah kaget dan setengah bingung. “Hah?”

“Tangan kamu ada dua nggak bisa pasang tali sepatu yang bener apa?”

Kairo melihat sekilas sepatunya dan bergidik, “Nggak bisa. Kenapa? Mau benerin?”

Nala mendecak sebal dan berlari kecil menghampiri sosok jangkung itu. Dengan cepat menunduk dan membenarkan tali sepatu itu dengan benar dan rapi. Tanpa mengindahkan pasang mata yang memandangnya takjub dan penuh pertanyaan.

Setelahnya, Kairo hanya melenggang pergi tanpa mengucapkan terima kasih. Membuat Nala terdiam sebentar di tempatnya. Tak habis pikir bagaimana Kairo memperlakukannya setelah dengan cuma-cuma ia membantu.

“Kenapa sih sok peduli sama dia? Kairo nggak pernah peduli sama siapapun, Nala!” tegur Puri sembari menarik lengan kawannya pergi dari lapangan

*****

Pukul setengah dua siang, wajah-wajah mereka yang berseragam putih-biru nampak lesu. Panasnya hawa kota ditambah mata pelajaran yang membosankan sangat mudah mengundang kantuk datang.

Nala juga. Ia sudah menguap setidaknya 5 kali dalam satu jam. Sedangkan Puri sukses tertidur pulas dengan buku pelajaran sebagai tamengnya. Jangan ditiru. Jelas-jelas melanggar peraturan.

“Surinala.”

Gadis bersurai hitam itu tersentak kecil, rasa kantuknya mendadak pergi.

“Iya, bu?”

“Boleh ikut saya ke ruang guru sebentar?”

“Bisa, bu.”

Dengan cepat ia mengekor Bu Hanum, guru Bahasa Indonesia yang memintanya ikut ke ruang guru. Sepanjang perjalanan ia bertanya-tanya apakah telah membuat kesalahan atau kurang tugas.

“Duduk dulu, nak. Sebentar ya.”

Rasa gugup itu makin menjadi-jadi ketika sosok Bu Hanum menghilang di balik pintu belakang ruang guru. Rasanya risih ketika beberapa guru melihatnya penuh curiga, padahal ia tidak salah apa-apa.

5 menit kemudian, Bu Hanum kembali dengan sosok jangkung di belakangnya. Kairo.

Pemuda itu nampak santai saja duduk di sebelah Nala. Malah, seperti tidak mengenalnya padahal tadi pagi sudah bikin adegan mengejutkan sebelum bel masuk berdering.

“Nala, saya bawa kamu kesini karena mau minta tolong.”

Bu Hanum melirik Kairo sebentar dan berdehem pelan, “Kairo ketinggalan banyak pelajaran karena jarang masuk sekolah. Kamu bisa kan jadi mentor dia selama beberapa hari ini? Sampai UTS saja, nggak lebih.”

“Tapi bu, mohon maaf sebelumnya, kenapa saya?”

“Nilai Bahasa Indonesia kamu sangat bagus, Nala. Dan kamu juga sangat mengerti materi pelajaran. Ibu minta tolong ya, nak?”

Nala hanya bisa mengangguk pasrah. Diliriknya Kairo di sebelah. Pemuda itu hanya diam di tempatnya, hanya bernapas tanpa ada keinginan menginterupsi obrolan guru dan teman satu sekolahnya itu.

“Ya sudah, kalian bisa kembali ke kelas.”

Di depan ruang guru, Nala menahan Kairo kembali ke kelasnya.

“Kalau aku jadi mentor, berarti aku butuh kontak kamu. Ada nomor atau apapun yang bisa dihubungi dan pasti dijawab dan dibalas?”

Kairo mengangguk, menyebutkan deretan nomor dan meninggalkan Nala begitu saja setelahnya. Untung Nala cerdas. Sampai kelas ia masih bisa mengingat jelas deretan nomor itu dan langsung menyimpan ke ponsel

*****

Nala benci orang yang nggak tepat waktu dan Kairo sudah terlambat 2 jam dari jadwal sebelumnya. Ia sudah habis dua gelas milkshake cokelat dan satu buah pie buah, tapi sosok itu juga belum ada tanda-tanda datang.

Nomor Kairo tidak bisa dihubungi, baik di chat atau ditelepon sekalipun. Mau pulang, tapi Nala takut kalau nanti temannya itu benar-benar datang dan ia tidak ada di tempat.

“Nala?”

Sosok Kairo akhirnya muncul, masih memakai seragam sekolahnya, padahal hari sudah petang. Sudah bisa dibilang malam. Apa anak ini nggak sempat pulang?

“Maaf lama. Ada urusan. Langsung aja.”

Pemuda itu mengeluarkan beberapa buku yang pasti dipakai untuk sesi mentoring. Nala menjelaskan beberapa materi yang sekiranya Kairo lewatkan selama absen sekolah.

Kairo pintar. Nala bisa lihat itu. Ia dengan cepat mengerti apa yang Nala jelaskan dan bisa menjawab pertanyaan dengan benar dalam sekali tebakan. Salah kalau Bu Hanum mengira anak didiknya ini tidak pandai.

“Sebentar.”

Kairo berlari kecil ke belakang ketika ponselnya bergetar, lalu kembali dengan panik. Ia langsung membereskan semua buku-buku dan alat tulis ke dalam tas, membuat Nala bingung.

“Ada apa, sih?”

“Nggak apa-apa. Kamu langsung pulang aja. Aku ada urusan.”

“Ya nggak bisa gitu dong? Kan belum selesai!”

“Selesai. Udah selesai. Permisi, aku ada urusan.”

“Nggak bisa. Aku ikut.”

Tidak ada waktu untuk berdebat, Kairo membiarkan Nala mengekorinya sepanjang jalan. Keduanya sampai di pelataran rumah sakit, masih tanpa obrolan. Nala sendiri tidak ada nyali untuk angkat suara. Tapi langkahnya masih berusaha mengimbangi Kairo dengan langkah panjangnya.

Riuh-rendah terjadi di depan ruang dengan tulisan ICU besar-besar warna merah. Wajah-wajah panik, entah dokter, perawat atau kerabat pasien, dan sekarang Kairo bergabung bersama mereka.

Nala tidak berani mendekat. Ia berakhir duduk di salah satu bangku di selasar yang sepi. Sibuk mengamati. Mungkin panggilan tadi sangat penting untuk temannya, dilihat bagaimana Kairo sangat cemas saat ini.

Menit-menit terlewati dengan penuh ketegangan, hingga akhirnya pundak Nala ditepuk pelan oleh seorang wanita. Sepertinya seumuran dengan Ibu nya.

“Temannya Kairo ya, nak?”

“Iya, tante…”

“Saya tadi lihat kamu kesini sama dia. Maaf ya, Kairo masih sibuk.”

“Nggak apa-apa kok tante… Tapi… Itu siapa ya? Yang di dalam?”

“Ah… Itu Mama nya Kairo…”

Nala semakin bingung. Mama nya Kairo apakah dokter dengan jubah putih? Atau perawat yang membawa brankar? Atau…

“Mama nya Kairo sakit jantung koroner sudah satu bulan ini. Minggu-minggu ini makin parah… Kadang kasihan sama Kairo karena harus menemani Mama nya. Papa nya sedang tugas di Papua, sangat susah minta cuti. Maklum, abdi negara…”

Gadis itu meringis kecil, membayangkan bagaimana repotnya Kairo harus menjalani tiga kehidupan sebagai anak, murid dan pengganti Papa nya dalam satu waktu.

“Nak…”

“Nala, tante.”

“Ah iya, Nala, sudah kemalaman kamu disini. Nggak apa-apa, pulang aja. Nanti saya pamitkan ke Kairo.”

“Nanti, tante. Mau tunggu Kairo dulu…”

Dan tak lama, sosok yang dibicarakan datang mendekat. Wajah lesunya semakin lusuh karena harus marathon tadi.

“Nala, maaf kamu harus kesini. Tante, dicari sama Eyang…”

Teman duduk Nala berganti, seiring suasana yang ikut berganti pula. Rasa canggung jelas mendominasi.

“Kamu… Jarang masuk sekolah gara-gara ini ya, Kairo?” tanya Nala hati-hati.

Kairo mengangguk pelan, “Aku nggak ada saudara kandung. Jadi mau nggak mau aku disini. Saudara yang lain juga pasti repot ada urusan sendiri-sendiri. Segan kalau mau minta tolong…”

“Guru-guru nggak ada yang tahu?”

“Nggak ada. Nggak ada kepentingan juga kan kalau mereka tahu.”

“Justru kamu bikin banyak kesalahpahaman kalau nggak cepet bilang! Kamu nggak tahu apa kalau banyak gosip aneh-aneh soal kamu nggak masuk sekolah?”

“Tahu.”

Jawaban barusan membuat Nala terdiam. Kairo nampak tenang, kontras dengan Nala yang semakin bingung saja.

“Kadang kita cuma perlu diam buat menjawab semua pertanyaan. Aku cuma punya satu mulut, nggak bisa menjawab semua pertanyaan. Tanganku cuma dua, nggak bisa buat menutup mulut mereka.”

Kairo menolehkan kepala. Kedua ujung bibirnya terangkat, hal yang jarang Nala lihat.

“Semua cuma masalah persepsi, Nala. Tinggal kita mau melihat sisi baik atau buruknya. Mungkin tindakan ku salah. Tidur di kelas, jarang masuk sekolah. Belum-belum mereka sudah banyak asumsi, jadi aku malas menjelaskan. Dari situ aku belajar untuk memahami lebih dulu daripada berbicara dulu.”

Nala mendadak merasa sangat bersalah. Ia sudah menjadi bagian mereka yang berprasangka buruk soal Kairo. Mungkin benar, kadang kita hanya harus melihat persepsi dari kepala lain.

Dari cerita pendek berjudul Persepsi di atas, berikut unsur-unsur intrinsik yang terkandung di dalamnya:

Unsur Intrinsik dari Cerita Persepsi

1. Tokoh –          Nala : baik hati, pengamat, penyabar

–          Kairo : susah mengutarakan pendapat dan perasaan, penyabar, sayang dengan orang tua

2. Sudut Pandang Orang ketiga serba tahu
3. Alur Maju atau Progresif
4. Latar –          Tempat: sekolah, café, rumah sakit

–          Waktu: pagi hari, sore hari, malam hari

–          Suasana: sedih, tegang, haru.

5. Tema Slice of Life
6. Amanat Jangan mudah menaruh prasangka terhadap orang yang kita tidak kenal dengan seluruhnya tanpa mencoba bertanya dan menaruh rasa peduli.

Semoga artikel kali ini dapat membantu para pembaca sekalian, ya! Stay safe and wear your mask!

About the author

Statmat Staff

Suka berbagi pengetahuan. Dan semoga bermanfaat.

Add Comment