Perhatian!Rumus error? gunakan google chrome atau firefox

Pengertian inflasi dan deflasi beserta indikatornya

Pengertian inflasi dan deflasi – Kita sering mendengar istilah inflasi dalam kehidupan sehari-hari, misalkan dalam sebuah berita yang di muat pada laman kompas.com  tanggal 3 januari 2018, memuat pernyataan kepala BPS Republik Indonesia kecuk suhariyanto mengenai inflasi. Suhariyanto mengatakan, “kenaikan harga beras terjadi pada beras kualitas premium menjadi Rp 9.860 per kilogram atau naik 3,37 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Sementara rata-rata harga beras kualitas rendah di penggilingan sebesar Rp 9.309,00 per kilogram, naik sebesar 2,98 persen.” Kompas.com, Rabu, 3 Januari 2018 | 09:00 WIB.

Dalam artikel tersebut di katakan bahwa adanya kenaikan harga beras dari bulan sebelumnya ke bulan berikutnya. Secara sederhana hal tersebut menunjukkan adanya inflasi, dan apabila terjadi penurunan harga maka kondisi tersebut dapat menunjukkan terjadinya deflasi.

Apakah inflasi mengacu pada kenaikan harga setiap komoditas?

Untuk menjawab pertanyaan di atas kita perlu mengetahui pengertian inflasi dan deflasi beserta komponen-komponen penyusun inflasi dan faktor apa saja yang dapat menyebabkan terjadinya inflasi atau deflasi.Pengertian inflasi dan indikatornya

Pengertian inflasi dan deflasi

Inflasi

Inflasi adalah suatu kecenderungan terjadinya kenaikan harga barang maupun jasa yang berlangsung secara terus menerus pada suatu daerah.

Misalkan dalam suatu negara, jika suatu kondisi inflasi terus meningkat secara tajam maka dipastikan harga barang dan jasa di suatu negara tersebut akan mengalami peningkatan.

Kenaikan harga barang dan jasa dapat berakibat turunnya nilai mata uang. Sehingga jika diartikan dalam konteks korelasi, inflasi menyebabkan terjadinya penurunan nilai mata uang terhadap harga barang dan jasa secara umum.

Besaran Inflasi Yang Wajar

Secara garis besar inflasi dibagi menjadi tiga yaitu inflasi ringan inflasi sedang inflasi tinggi dan inflasi sangat tinggi. Secara definisi inflasi memang sangat berpengaruh terhadap nilai mata uang namun inflasi juga dibutuhkan selama inflasi tersebut masih dapat terkontrol.

Menurut Kepala Kantor Bank Indonesia wilayah Sumut pada laman tribunnews.com bahwa inflasi yang terkontrol dibutuhkan untuk merangsang pertumbuhan ekonomi. Hal serupa disampaikan Dr. Nugroho SBM MSi dalam tulisannya sebagai berikut:

“Inflasi dalam kadar (tingkatan) ringan dibutuhkan. Sedangkan inflasi dalam kadar (tingkatan) berat baulahmerugikan. Selama ini ada konsensus pembagian tingkat inflasisebagai berikut: inflasi ringan (di bawah 10 persen/ tahun), inflasi sedang (antara 10 sampai 30 persen/ tahun), inflasi berat (antara 30 sampai 100 persen/ tahun), dan hiper inflasi ( di atas 100 persen/ tahun)”.

Sunber asli : inflasi tidak selalu berbahaya 

Indoneia pernah mengalami inflasi parah sebelum tahun 90an, yaitu tahun 1965 sebesar 594%, tahun 1966 inflasi sebesar 635.5 %. Sedangkan era setelah 90an inflasi terparah pernah terjadi pada tahun 1998, inflasi yang terjadi sebesar 77%.

Deflasi

Deflasi adalah kondisi dimana terjadinya penurunan harga barang dan jasa secara terus menerus dalam waktu yang cukup singkat. Deflasi merupakan kebalikan dari inflasi. Istilah lain yang dapat digunakan untuk menyebut kata deflasi adalah disinflasi yang artinya penurunan angka inflasi.

Apakah deflasi lebih baik daripada inflasi?

Namun demikian kita tidak dapat menginterpretasikan bahwa jika inflasi adalah kondisi buruk maka deflasi adalah kondisi baik. Inflasi yang wajar justru dibutuhkan untuk pertumbuhan ekonomi suatu negara. Berbeda dengan deflasi yang sangat tidak diinginkan.

Dampak Buruk Deflasi

Mungkin sebagai masyarakan yang berperan sebagai konsumen kita berharap harga barang dan jasa semurah mungkin dan terus menurun. Oleh karena itu istilah deflasi terdengar seperti hal yang menyenangkan. Tetapi yang perlu kita ingat mengenai inflasi dan deflasi adalah dampaknya.

Pengertian inflasi dan indikatornya 2
Ilustrasi Inflasi dari Harian Netral

Berikut ini dampak yangd apat ditimbulkan oleh deflasi:

 1. Pendapatan Menurun Dari Sektor Bisnis

Dalam persaingan bisnis seringkali masing-masing perusahaan berlomba-lomba menurunkan harga jual demi memenangkan persaingan. Baik itu dalam sektor industri, manufaktur, perdagangan bahkan perumahan dan jasa. Akibatnya seluruh harga lama kelamaan akan turun disertai dengan merosotnya keuntungan bisnis. Jika deflasi terus terjadi maka banyak bisnis yang terpaksa harus menghentikan aktivitasnya karena tidak memiliki biaya produksi.

2. Beresiko Terjadinya Penurunan Gaji dan PHK

Para pengusaha patut khawatir jika terjadi deflasi karena dapat mengakibatkan menurunnya keuntungan bahkan hingga merugi. Tetapi bagi para karyawan deflasi juga dapat memberikan dampak yang sangat buruk. Seperti yang telah disebutkan pada poin pertama, jika keuntungan bisnis menurun atau bahkan merugi lama-kelamaan perusahaan tidak dapat membiayai seluruh biaya operasional. Akibatnya akan terjadi penurunan gaji, merumahkan sementara karyawan yang kurang berfungsi hingga PHK atau Pemutusan Hubungan Kerja.

3. Daya Beli Masyarakat Menurun

Ketika harga-harga menurun konsumen akan tergiur untuk segera berbelanja sebanyak-banyaknya. Karena itu tingkat pembelian konsumen akan melonjak pesat. Tetapi beberapa saat setelah itu kebanyakan konsumen akan mengalami penurunan gaji atau bahkan kehilangan pekerjaan. Pada titik inilah konsumen akan mengurangi belanjanya secara drastis sehingga mengakibatkan penurunan pengeluaran konsumen yang drastis. Jika deflasi terus berlanjut maka kondisi perekonomian akan semakin tidak terkendali.

4. Lesunya Investasi dan Harga Saham

Fluktuasi pada pasar modal sangat bergantung pada kondisi perusahaan. Jika terjadi dampak seperti pada poin pertama dimana keuntungan perusahaan menurun drastis, maka investor akan menarik modalnya dan menunggu kondisi stabil kembali. Akibatnya nilai investasi dan harga-harga saham akan menurun drastis pula.

5. Mimpi Buruk Dunia Perkreditan

Karena terjadi penurunan pendapatan baik bagi para pebisnis maupun karyawan, akan banyak kreditur yang gagal membayar pinjamannya. Akibatnya perusahaan-perusahaan yang memberikan pinjaman juga akan mengalami penurunan drastis. Sekalipun bank menurunkan suku bunga pinjamannya, akan sedikit orang yang berani mengambil pinjaman.

sumber : link

Katakanlah Tiongkok, sejak tahun 2014 Tiongkok menargetkan inflasi tahunan sebesar 3,7% dan Jepang sebesar 3,2%. Hal tersebut menunjukkan bahwa inflasi memang dibutuhkan untuk memberikan rangsangan terhadap pertumbuhan ekonomi  dan meningkatkan optimisme pasar.

Di Indonesia, angka inflasi kita berada pada kisaran 3%, dan kisaran yang paling baik adalah 3-5%. Angka inflasi tersebut sangat baik untuk merangsang pertumbuhan ekonomi di indonesia.

Lembaga Penyusun Inflasi

Sesuai amanat UUD 1945, Bank indonesia adalah lembaga yang resmi mengatur dan mengendalikan inflasi, dan BPS adalah lembaga yang ditunjuk untuk menghitung inflasi.

Metodologi Penghitungan Inflasi

Indikator Inflasi

Indeks Harga Konsumen (IHK) merupakan indikator yang digunakan BPS untuk menghitung inflasi.  IHK adalah Indeks yang digunakan untuk menghitung rata-rata perubahan harga dari suatu paket komoditas barang dan jasa yang dikonsumsi oleh rumah tangga dalam kurun waktu tertentu. IHK merupakan indikator yang digunakan untuk mengukur tingkat inflasi. Perubahan IHK dari waktu  ke waktu menggambarkan tingkat kenaikan (inflasi) atau tingkat penurunan (deflasi) dari barang dan jasa.  Sumber: BPS

Pelajari tentang Perhitungan IHK pada artikel : Indeks Harga Konsumen (IHK) dan Indeks Biaya Hidup(IBH)

Sumber :

https://ekonomi.kompas.com/read/2018/01/03/090000526/selama-desember-harga-beras-di-penggilingan-naik

https://www.finansialku.com/definisi-deflasi-adalah/amp/

http://medan.tribunnews.com/2017/09/05/inflasi-dibutuhkan-untuk-hal-ini

https://www.bps.go.id

https://www.bi.go.id